Phone

0823 1173 8960 (Fajar)

0813 9929 1909 (Fikri)

Phone Office

+62-21 29563045







Data Logger telah menemukan Ikan Purba

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: strtotime(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone.

Filename: dataloggerindonesia/post.php

Line Number: 18

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: date(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected the timezone 'UTC' for now, but please set date.timezone to select your timezone.

Filename: dataloggerindonesia/post.php

Line Number: 18

09 April 2019

Seorang peneliti menggunakan Data Logger Temperature untuk memantau suhu air di daerah terumbu karang di Indonesia dan akhirnya membuktikan keberadaan spesies ikan yang diyakini telah punah.

Pada bulan April 1998m Dr. Mark Erdmann mulai menggunakan data logger dar Onset untuk memantau suhu air laut di beberapa lokasi dan kedalaman di Manado, Sulawesi.


Awalnya, ia memantau kesehatan terumbu karang di Indonesia bagian utara menggunakan krustasea laut sebagai spesies bioindikator. Data suhu penting untuk menjelaskan perubahan dalam kelimpahan dan distribusi spesies. Data logger dikerahkan di beberapa lokasi mulai dari intertidal hingga kedalaman 40 meter.

Namun, penelitiannya mengalami perubahan yang dramatis tahun lalu ketika dia dan istrinya melihat seekor ikan bersirip besar di pasar ikan di Manado. Itu adalah coelacanth (dilafalkan "Seal-a-canth") milik garis keturunan ikan purba yang terkait erat dengan vertebrata darat pertama.

Kelompok ikan ini diperkirakan telah punah 80 juta tahun yang lalu, tetapi pada tahun 1938 seekor coelacanth hidup ditangkap di jaring di London Timur, Afrika Selatan. Pada saat itu, itu digembar-gemborkan sebagai salah satu penemuan zoologi terbesar abad ke-20. Empat belas tahun kemudian, coelacanth lain ditangkap dari Kepulauan Comoro di Selat Mozambik. Sejak itu, hampir 200 coelacanth telah ditangkap di Komoro, dan hewan-hewan itu bahkan telah difilmkan menggunakan kapal selam.

Ini dianggap sebagai satu-satunya populasi coelacanth di dunia dan sayangnya, populasinya menurun dengan cepat. Diperkirakan hanya tersisa 200 hingga 300 ikan. Penemuan populasi lain yang berjarak 10.000 km akan memunculkan harapan bagi coelacanth, sambil membuka banyak pertanyaan evolusioner dan biogeografis. Namun, Dr. Erdmann tidak dapat memperoleh ikan yang ia lihat di pasar. Yang dia dapatkan hanyalah tiga foto itu. Apakah itu benar-benar coelacanth? Apakah itu berasal dari perairan Indonesia? Apakah itu spesies yang berbeda? Apakah ada populasi coelacanth yang tinggal di daerah ini?

Erdmann segera mulai mencari nelayan yang menangkap ikan ini untuk mengetahui dari mana asalnya dan apakah ada ikan lain yang pernah ditangkap. Harapannya adalah akhirnya mendapatkan coelacanth lain yang bisa dilestarikan dan dipelajari. Setelah mewawancarai lusinan nelayan dari desa-desa di sekitar Sulawesi utara, ia menemukan dua lelaki yang tinggal di sebuah pulau kecil di luar Manado yang mengaku pernah menangkap coelacanth dulu. Salah satunya adalah nelayan yang menangkap “binatang” yang dilihat Dr. Erdmann di pasar ikan Manado. Mereka berdua adalah nelayan hiu yang mencari nafkah dengan memasang jaring insang besar di dasar sebuah pulau vulkanik muda. Seringkali jala ditempatkan pada kedalaman 200 hingga 300 meter.

Di Komoro, coelacanth biasanya ditangkap pada kedalaman antara 100 dan 300 meter. Ikan-ikan ini juga tampaknya lebih suka suhu air antara 12º dan 18 ° C. Dr. Erdmann menempelkan data logger pada jaring nelayan untuk menentukan apakah mereka meletakkan jaring pada kedalaman yang memiliki suhu yang sesuai untuk ikan ini. Memang benar. Suhu ditentukan sekitar 15 ° C. Selama beberapa bulan dia terus memantau suhu di kedalaman tempat para nelayan mengaturnya, tetapi tidak ada coelacanth yang tertangkap. Kemudian pada pagi hari 30 Juli 1998, seorang kru nelayan mengendarai kapal mereka ke rumahnya dan mengumumkan bahwa mereka telah menangkap seekor coelacanth hidup. Erdmann memotret ikan lalu memasukannya lagi ke air.

Karena suhu air yang hangat di dekat permukaan dan trauma penangkapan, ikan itu mati dalam beberapa jam. Sampel jaringan diambil untuk penelitian dan 1,2 meter, ikan 25 kilogram dibekukan. Kemudian dicairkan, disimpan, dan dipajang di Jakarta.

Penemuan coelacanth Indonesia ini diumumkan dalam majalah Nature edisi 24 September 1998, di mana sebuah foto muncul di sampulnya. Itu juga ditampilkan dalam edisi Desember 1998 National Geographic Magazine, dan itu dimasukkan dalam daftar majalah Discover atas cerita sains tahun 1998. Saat ini analisis genetik molekuler dari jaringan yang diambil dari ikan ini sedang diselesaikan dan dibandingkan dengan data dari coelacanth diambil di Kepulauan Komoro. Hasil ini akan diserahkan ke Majalah Nature untuk dipublikasi musim dingin ini.

Sejak mempublikasikan temuan ini, Dr. Erdmann telah menerima laporan penampakan Coelacanth di bagian lain Indonesia. Dia berencana untuk mengunjungi banyak daerah ini untuk menentukan apakah habitatnya mirip dengan yang diyakini cocok untuk coelacanth. Salah satu pengukuran yang akan dilakukan adalah suhu pada kedalaman 100 hingga 300 meter. Ini umumnya akan dilakukan dengan menempelkan alat perekam suhu ke pancingan atau jaring. Karena ketergantungannya, ukurannya yang kecil, serta biaya yang relatif murah, Data logger ideal untuk jenis pekerjaan survei ini karena hanya ada sedikit dukungan logistik, dan kondisi dapat menyebabkan instrumen sering hilang.

Untuk melakukan pemantauannya di terumbu karang, Data Logger Temperature dibiarkan di tempat untuk mencatat suhu selama satu hingga tiga bulan sekaligus. Untuk digunakan pada jaring ikan, perangkat terpasang pada jaring, yang digunakan pada waktu sore dan diambil pada waktu pagi. Pada akhirnya, penelitian pemantauan terumbu karang harus membantu kita semua memahami jenis tekanan apa yang ada di terumbu karang, dan bagaimana cara mengelola dan melindunginya dengan lebih baik. Untuk penelitian coelacanth, Dr. Erdmann berharap untuk menentukan apakah populasi lain ada dan belajar lebih banyak tentang habitat tempat mereka hidup.

Erdmann mencatat bahwa ia sangat senang dengan Data Logger TidbiT, dan terutama perangkat lunak BoxCar Pro. TidbiT yang dipasang pada kedalaman 3 meter, 20 meter, dan 40 meter di sekitar Pulau Bunaken sejak Juni 1998 telah memberikan dataset time-series suhu yang sangat baik untuk melacak perubahan suhu air yang terkait dengan La Nina, yang mengakibatkan pemutihan karang besar-besaran di daerah tersebut. sejak November.

 

sumber: https://www.onsetcomp.com/content/underwater-loggers-aid-discovery-prehistoric-fish

 




Produk Terkait dengan artikel Data Logger telah menemukan Ikan Purba

MicroLog Compact Data Logger
MicroLog Compact Data Logger
MicroLogPRO Compact 10-bit Data Logger
MicroLogPRO Compact 10-bit Data Logger
ENT20 Ethernet Temperature Logger
ENT20 Ethernet Temperature Logger
TP125 Temperature & Humidity Logger
TP125 Temperature & Humidity Logger


Seorang peneliti menggunakan Data Logger untuk memantau suhu air di daerah terumbu karang di Indonesia dan akhirnya membuktikan keberadaan spesies ikan yang diyakini telah punah.

Contact Us

Jl. Radin Inten II No. 61B Duren Sawit - Jakarta 13440
0823 1173 8960 (Fajar)
0822 5870 6420 (Anto) (CS 24 Jam)
0813 9929 1909 (Fikri)
sales@dataloggerindonesia.com
(021) 29563052
Mon - Fri : 07:45 - 18:00

FANS PAGE